Resensi Novel "Pulang"

>> Rabu, 21 Oktober 2009

Judul Buku : Pulang
Jenis Buku : Novel Nonfiksi/Roman
Pengarang : Toha Mohtar
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun Penrbitan : 1957
Tebal Buku : 104 Halaman

    Telah lama Tamin tidak pulang dan menginjakkan kakinya di kampung halamannya, sejak 7 tahun lalu ia menjadi pasukan Heiho. Dia rindu akan kampung halamannya di kaki Gunung Wilis yang sejuk, indah dan ditambah dengan pemandangan sawah yang berpetak-petak yang akan menghilangkan setiap masalah yang ada. Rindunya semakin berlarut-larut setelah rumah yang sederhana yang tidak ada perubahan kecuali pohon jambu yang telah jauh melampaui tubuhnya yang telah tampak dari kejauhan. Semakin dekat rumah sederhana itu dipelupuk mata, semakin menggebu-gebu pula segala rindu dihati, terdengar suara batuk ayahnya dari dalam rumah dan dilihatnya ibunya sedang sibuk mengumpulkan kayu bakar di samping rumah. Rindu yang telah tak terbendung oleh keluarga termasuk adiknya tercinta yaitu, Sumi, akhirnya tertumpah lewat pertemuan itu.

    Setelah beberapa hari ia menetap di desanya, Tamin baru mengetahui bahwa keadaan keluarganya begitu memprihatinkan. Untuk menyambung hidup dan biaya berobat sang ayah, sawah yang menjadi kebanggaan dan warisan yang tidak boleh diperjual-belikan telah pindah tangan ke orang lain. Berita itu, membuat Tamin sangat sedih dan rencananya untuk membeli sapi dibatalkan untuk menembus sawah yang seharga 2 ekor sapi. Dalam kebimbangan akhirnya Tamin menjual sebuah kalung emas bermatakan permata yang awalnya yang akan dihadiahkan kepada Sumi, untuk menembus sawah dengan letak strategis itu.
    Setelah beberapa proses, sawah telah beralih tangan kembali ke tangan keluarga Tamin. Betapa senangnya keluarga itu, bagaikan telah ada warna cerah lagi dalam rumah itu. Tak terkecuali ayah dan ibunya yang keadaannya semakin membaik setelah kedatangan Tarmin. Sumi yang dulunya bekerja keras kini telah tersenyum lebar karena tugasnya telah digantikan oleh kakaknya.
    Di tengah matahari yang menyengat, di sawah Tamin kembali lihat gadis sedap dipandang mata bernama Isah. Karena semakin sering dilihatnya gadis itu, rasa cinta dalam hati mulai tumbuh dan mulai tertanam dalam hati.
    Padi telah menguning, panen telah datang namun karena tekanan batin dalam hatinya tentang masa lalunya yang menjadi pasukan Heiho, yang dianggap mengkhianati negara dalam hatinya bergumam bahwa dia tak pantas berada di desanya dan meninggalkan kampung halamannya.
    Dalam perjalanannya, Tamin tersesat di sebuah desa yang tak dikenalnya. Dalam kebingungannya Tamin bertemu dengan seorang nelayan dan ikut bersama nelayan tersebut dan bekerja di desa nelayan tersebut selama 4 bulan. Telah lama ia pergi dari kampung halamannya, Tamin kembali pulang setelah mendengarkan cerita dari Pak Banji, warga desanya, yang mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal, Sumi sang adik terus menangis menantinya, ibunya kembali muram dan tak terurus, dan Isah juga sedih menantinya.
    Akhirnya Tamin kembali pulang ke desa di kaki Gunung Wilis. Hal yang pertama, yang ia lakukan adalah berziarah ke makam ayahnya dan berjanji tidak akan meninggalkan keluarganya lagi dan mengurus sawah dengan bersungguh-sungguh. Sepulang dirumah, Tamin meminta maaf kepada Sumi dan ibunya karena telah meninggalkan mereka. Sumi memaafkannya dan kembali tersenyum simpul dan keceriaan kembali hadir di dalam rumah yang bersejarah itu. Tamin berpesan kepada Sumi yang akan memberi kabar tentang kepulangan Tamin kepada Isah. Pesan Tamin adalah bahwa malam ini dia akan menembangkan lagu Asmaradhana untuk Sumi dan Isah.
    Tujuan pengarang menulis buku ini adalah karena pada awalnya sebelum novel ini dibuat, cerita roman ini telah pernah dimuat di majalah dan pernah dibuat film oleh Turino Djunaidi dan disukai oleh khalayak ramai.
Sedangkan tujuan diresensinya novel ini, karena karena novel ini mempunyai cerita yang sangat menyentuh dan layak untuk dibaca. Toha Mohtar sebagai pengarang menampilkan cerita yang sederhana dalam novel ini, namun ini semakin membuat novel ini terasa amat jernih, bening, dan liris. Ditambah lagi kepekaan pengarangan yang melukiskan cerita dengan halus dan teliti setiap konflik psikologis para pelakunya dengan sangat meyakinkan. Dan suatu prestasi yang membanggakan novel ini telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa asing.
    Novel ini pada umumnya bisa dibaca oleh semua kalangan, tetapi yang paling cocok dibaca oleh remaja dan dewasa karena novel ini menceritakan kehidupan cinta dan kerasnya kehidupan, sehingga kurang cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak.

1 komentar:

Anonim,  20 April 2011 pukul 00.22  

terimakasi gan

Posting Komentar

what is your comment?. ^^

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP